Deeptalk bersama Ibu KS
Suasana: Mendung tapi tidak hujan
Menjadi seorang pemimpin bukan soal pangkat atau status kepegawaian, melainkan soal keberanian memikul tanggung jawab. Kalimat itulah yang menjadi pegangan hidup bagi seorang Ibu Kepala Sekolah yang saat ini masih berstatus sebagai guru honorer. Di pundaknya, terpikul beban berat: mengelola sebuah sekolah tanpa memiliki rekam jejak pengalaman sebelumnya, ditambah lagi kenyataan pahit bahwa guru-guru senior yang seharusnya menjadi mentor kini telah tiada di sekolah tersebut.
Dalam kesendirian dan rasa "galau" yang sesekali menyapa, ia tidak memilih untuk menyerah pada keadaan. Alih-alih meratapi kurangnya sumber daya manusia, ia justru membuka pintu lebar-lebar bagi masa depan.
Mengubah Tantangan Menjadi Peluang
Kesadaran bahwa ia tidak bisa berjalan sendiri melahirkan sebuah ide cemerlang. Ia merangkul dunia akademis dengan mengajak mahasiswa untuk terjun langsung ke sekolahnya. Sekolah yang tadinya sunyi kini riuh dengan energi muda. Para mahasiswa ini tidak hanya datang untuk menunaikan tugas, tetapi membawa misi suci: mengajarkan Al-Qur’an dan membimbing karakter anak-anak didik.
Langkah ini membuktikan bahwa keterbatasan anggaran bukanlah penghalang untuk menghadirkan kualitas pendidikan yang bermartabat.
Dukungan dari Balik Layar
Di balik keteguhan hati sang Kepala Sekolah, ada sosok suami yang menjadi pilar kekuatan. Sebagai seorang dosen, sang suami tidak hanya memberikan motivasi moral, tetapi juga dorongan intelektual. Beliau mengajarkan arti kesabaran dan pentingnya manajemen yang terukur.
Salah satu terobosan besar hasil kolaborasi ini adalah program Karantina Qur’an. Dengan kewenangan penuh yang diberikan untuk berinovasi, sekolah ini bertransformasi menjadi kawah candradimuka bagi pembentukan akhlak generasi muda. Sang Kepala Sekolah sadar, meski ia "hanya" seorang honorer di mata administrasi negara, di mata Tuhan dan anak-didiknya, ia adalah arsitek masa depan.
Pesan untuk Kita Semua
Kisah ini mengajarkan kita bahwa kepemimpinan adalah soal kemauan. Saat kita merasa tidak punya siapa-siapa untuk bertanya, bertanyalah pada nurani dan bukalah kolaborasi. Pengalaman bisa dicari, namun ketulusan untuk mengabdi adalah barang langka yang harus dijaga.
"Status mungkin honorer, tapi visi haruslah misioner. Karena sebaik-baiknya pemimpin adalah ia yang mampu membuka jalan bagi orang lain untuk ikut menanam kebaikan."
Komentar
Posting Komentar